Rabu, 05 Desember 2012

Ragam, Kedudukan, dan Fungsi Bahasa Indonesia

RAGAM, KEDUDUKAN DAN FUNGSI BAHASA INDONESIA

BAB II
PEMBAHASAN

A.   Ragam-ragam Bahasa Indonesia
Ragam bahasa Indonesia pada hakikatnya adalah variasi penggunaan bahasa oleh para penutur bahasa itu. Dengan konsep itu, keberadaan bahasa Indonesia resmi (Baku) dalam penggunaan bahasa Indonesia oleh para penuturnya merupakan salah satu bentuk variasi bahasa dari variasi bahasa Indonesia lainya. Hal penting yang perlu dipahami adalah bahwa bahasa Indonesia resmi digunakan pada tempat atau suasana yang resmi atau hal lain yang menjadi alasan digunakan bahasa resmi tersebut.
Ragam bahasa Indonesia dibedakan Alwi  (1998:3–6) berdasarkan penutur bahasa dan berdasarkan jenis pemakaian bahasa. Ragam bahasa Indonesia bedasarkan penutur diperinci menurut tinjauan  (1) daerah, (2) pendidikan dan (3) sikap penutur. Ragam bahasa Indonesia berdasarkan jenis pemakaian bahasa diperinci menurut tinjauan (1) bidang/pokok persoalan, (2) sarananya, dan (3) gangguan percampuran. Ragam-ragam bahasa Indonesia dapat dijelaskan berikut ini.
1.      Berdasarkan Daerah Asal Penutur
Ditinjau berdasarkan daerah asal penutur, bahasa Indonesia yang digunakan oleh orang Indonesia memiliki variasi atau ragam. Ragam-ragam bahasa Indonesia dari sudut daerah penutur ini sering disebut dengan logat.  Dengan demikian akan terdapat beberapa ragam bahasa Indonesia yakni bahasa Indonesia logat Batak, bahasa Indonesia logat Minangkabau, bahasa Indonesia logat Jawa, bahasa Indonesia logat Aceh, bahasa Indonesia logat Sunda, bahasa Indonesia logat Bali, bahasa Indonesia logat Menado, bahasa Indonesia logat Melayu dan sebagainya.
2.      Berdasarkan Pendidikan Penutur
Berdasarkan sudut pandang pendidikan para penuturnya, bahasa Indonesia dibedakan atas beberapa ragam atau variasi. Dari sudut itu, kelihatan bahasa Indonesia memiliki variasi penggunaannya. Bahasa Indonesia yang digunakan oleh orang  yang berpendidikan berbeda dengan bahasa Indonesia yang digunakan oleh orang yang tidak berpendidikan.  Oleh karena itu, dapat dibedakan adanya bahasa Indonesia ragam  orang berpendidikan dan bahasa Indonesia ragam orang tidak berpendidikan.
3.      Berdasarkan Sikap Penutur
Ragam bahasa Indonesia berdasarkan sikap penutur dapat dibedakan atas beberapa macam.  Ragam bahasa menurut sikap penutur penggunaan bahasa Indonesia itu dapat pula disebut dengan langgam atau gaya. Oleh karena itu, bahasa Indonesia yang digunakan para penutur berdasarkan sikapnya dapat dibedakan atas beberapa macam yakni bahasa Indonesia dengan resmi; bahasa Indonesia ragam akrab, bahasa Indonesia ragam santai, dan sebagainya.
4.      Berdasarkan Pokok Persoalan
Bahasa indonesia ditinjau berdasarkan pokok persoalan yang dibicarakan dapat pula dibedakan atas ragam-ragam bahasa Indonesia itu.  Setiap pokok persoalan atau bidang yang dibicarakan telah  memperlihatkan variasi bahasa Indonesia   sesuai dengan bidang itu. Bahasa Indonesia yang  digunakan dalam bidang Militer telah diperlihatkan kekhasannya atau variasi dengan bahasa Indonesia yang dapat digunakan dalam bidang Kedokteran, sebagai misal. Pengungkapan  adanya operasi  dalam bidang Kedokteran  akan berbeda dengan mengungkapan  adanya operasi  dalam bidang Militer. Jadi, ragam bahasa menurut pokok persoalan dibedakan adanya ragam bahasa bidang agama, politik, militer, teknik, kedokteran, seni, dan sebagainya.
5.      Berdasarkan Sarana
Bahasa Indonesia,  dilihat berdasarkan sarananya, dapat dibedakan atas ragam bahasa Indonesia lisan dan ragam bahasa Indonesia tertulis.  Bahasa Indonesia lisan masing-masing memiliki variasi dengan bahasa Indonesia tulis. Bahasa Indonesia tulis tidak lagi persis sama dengan bahasa Indonesia lisan.  Hal itu terjadi karena bahasa Indonesia tulis telah diatur dengan sistem atau aturannya sendiri. Akhirnya, bahasa Indonesia lisan memiliki kekhasan dan bahasa Indonesia tulis juga memiliki kekhasan. Namun,  kadang-kadang perlu dicermati tidak semua bahasa Indonesia yang lisan sebagai ragam lisan karena mungkin yang lisan itu pada hakikatnya adalah bahasa Indonesia ragam tulis yang dilisankan seperti dalam berita radio, pembacaan naskah, pidato menggunakan naskah, dan sebagainya.
Bahasa ragam lisan jelas memiliki perbedaan dengan bahasa ragam  tulis.  Lyons  (1977:69)  mengemukakan secara mendasar perbedaan bahasa ragam lisan dan bahasa ragam tulis terlihat pada ciri  (1) perbedaan tingkat pementingan unsur gramatika, leksikal, prosodi, dan paralingual;  (2) perbedaan perlengkapan unsur; dan (3) adatidaknya sifat kespontanan. Berdasarkan ciri itu akan terlihat perbedaan bahasa ragam lisan dan ragam tulis secara nyata. pada intinya ragam bahasa Indonesia lisan dan ragam bahasa Indonesia tulis dapat dilihat kekhasanya masing-masing dari aspek:  (1)  kosakata yag dimilikinyadan (2) struktur kalimat yang digunakanya.
6.      Berdasarkan Gangguan Percampuran
Bahasa Indonesia berdasarkan Pemakaiannya telah memperlihatkan adanya percampuran dengan bahasa asing dengan yang tidak mengalami percampuran. Hal itu terlihat bila bahasa Indonesia digunakan oleh para penuturnya terutama penutur di tingkat atas. Oleh karena itu, pada dasarnya bahasa Indonesia dapat dibedakanatasa ragam bahasa Indonesia mengalami percampuran dengan ragam bahasa Indonesia yang tidak mengalami percampuran. Untuk menambah khasanah pemikiran tentang ragam bahasa indonesia ada baiknya dikemukakan ragam kreatif bahasa Indonesia menurut Sudaryanto. (1997:50) yakni: (1) bahasa Indonesia ragam jurnalistik; (2) bahsa Indonesia ragam literer;  (3) bahasa Indonesia ragam filosofik;  (4) bahasa Indonesia ragam akademik;  (5) bahasa Indonesia ragam bisnis. Penjelasan keterkaitankeima ragam ituakan dijelaskan berikut ini.
Bahasa Indonesia ragam jurnalistik berada ditengah keempat ragam yang lain.  Bahasa Indonesia ragam jurnalistik eksis ditengah pengaruh dan mempengaruhi keempat ragamyang lain tersebut. Kepolosan merupakan alas utama ragam jurnalistik dengan menggunakan daya lugas mengimformasi fakta. Ragam literer atau ragam sastra dengan alas utama kepekaan mengunakan daya kejut mengimanijasi.
Ragam filosofik muncul dengan alas kearifan menggunakan daya tualang  berkontemplasi atau daya renung. Ragam akadimik menggunakan alas kejernihan dengan daya canggih mengbtraksi. Ragam bisnis menggunakan alas keramahan dengan daya jerat menyugesti.

B.   Kedudukan Bahasa Indonesia
Bertolak dari sejarah pertumbuhan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia yang dijelaskan sebelumnya dapat dilihat kedudukan bahasa Indonesia itu di bumi Indonesia ini. Berdasarkan kedudukanya itu dapat pula diurai fungsi-fungsi yang diemban oleh bahasa Indonesia.
Kedudukan bahasa Indonesia pada dasarnya dapat dibedakan atas dua yang bertolak dari sejarah pertumbuhanya.
1.  Kedudukan Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Nasional
Kedudukan yang paling dahulu muncul dari bahasa Indonesia adalah kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.
Kedudukan itu melekat sejak sumpah pemuda tahun 1928 dengan ikrar yang ketiga berbunyi menjoenjoeng tinggi bahasa persatoean bahasa Indonesia. sejak tanggal 28 Oktober 1928 ini secara resmi telah diakui adanya bahasa Indonesia dan mempunyai kewajiban untuk menjunjung tinggi bahasa pemersatu bangsa dengan berbagai etnis yang ada.
2.    Kedudukan Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Negara
Beriringan dengan sejarah perjalanan bangsa indonesia yang merdeka 17 Agustus 1945, sehari sesudahnya pada tanggal 18 Agustus 1945 diakui keberadaan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara. Kedudukan itu temaktub dalam pasal 36 UUD 1945 yang berbunyi Bahasa negara adalah bahasa Indonesia. Jadi, tanggal 18 Agustus 1945 yang disahkannya UUD 1945 berarti kedudukan bahasa Indonesia juga sebagai bahasa negara selain memiliki kedudukan sebagai bahasa nasional yang ada sejak tanggal 28 Oktober 1928.
Masalah kedudukan bahasa Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan kehidupan bernegara dapat dibedakan berikut ini. Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional diembannya dalam persoalan kehidupan berbangsa bukan dalam kehidupan bernegara. Demikian juga, Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara diembannya dalam persoalan kehidupan bernegara bukan dalam kehidupan berbangsa.

C.   Fungsi Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia memiliki fungsi sejalan dengan kedudukan bahasa indonesia itu sebagai bahasa nasional dan sebagai bahasa negara. Halim (1979:50) menjelaskan Empat fungsi bahasa Indonesia dalam kedudukanya sebagai bahasa nasional. Selain itu, Halim (1979:52) juga menjelaskan Empat fungsi bahasa Indonesia dalam kedudukannya sebagai bahasa negara. Fungsi-fungsi bahasa Indonesia dijelaskan berikut ini.
Empat Fungsi Bahasa Indonesia Dalam Kedudukannya Sebagai Bahasa Nasional:
1.      Bahasa Indonesia berfungsi sebagai lambang kebanggaan nasional. Seluruh bangsa Indonesia patut bangga dengan adanya satu bahasa nasional di antara berbagai bahasa daerah dengan etnis yang berbeda-beda. Bangsa Indonesia memang unik karena terdiri dari berbagai etnis dan berbagai bahasa daerah. Namun demikian, pemikir bangsa Indonesia pada masa lalu mampu menetapkan satu bahasa nasional. satu bahasa nasional di antara banyaknya penutur yang memiliki bahasa pertama (bahasa daerah) yang berbeda-beda itu merupakan suatu kebanggan bangsa kita. Barangkali, tidak banyaklah bangsa yang memiliki satu bahasa nasional yang dipakai secara luas dan dijunjung tinggi oleh berbagai etnis itu.
2.      Bahasa Indonesia  berfungsi sebagai lambang identitas nasional.  Bangsa Indonesia terdiri berbagai etnis atau suku bangsa.  Dengan kondisi bangsa Indonesia yang beragam itu, bahasa Indonesia berfungsi sebagai lambang identitas nasional.  Kita perlu membangun kepercayaan diri bangsa kita.  Untuk itu, kita memerlukan identitas bangsa. Jadi, identitas bangsa Indonesia, salah satunya dapat diwujutkan melalui bahasa nasional.  Artinya,  bansa Indonesia dengan berbgai suku dan berbagai bahasa daerah itu dapat diidentikkan sebagai sebuah bangsa melalui satu bahasa nasional yakni bahasa Indonesia.
3.      Bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat pemersatu berbagai suku bangsa.  Artinya, bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat yang meyakinkan penyatuan berbagai-bagai suku bangsa dengan latar belakang sosial budaya dan bahasanya masing-masing ke dalam kesatuan kebangsaan Indonesia. Oleh bangsa Indonesia masih bisa bertahan sebagai suatu bangsa karena tetap dipersatukan oleh satu bahasa nasional yaitu bahasa Indonesia.
4.      Bahasa Indonesia berfungsi sebagai perhubungan antardaerah antarbudaya. jika bangsa kita tidak memiliki satu bahasa nasional, maka permasalahan utama yang pasti akan muncul adalah hambatan komunikasi di antara suku bangsa. Indonesia memiliki suku dan bahasa daerah yang sangat beragam. Keberagaman suku dan bahasa  daerah itu akan terasa sekali si wilayah Indonesia timur. Dua wilayah yang dibatasi oleh sebuah bukit, dapat pula terdiri atas sua suku yang berbeda dan dua bahasa yang berbeda pula. Demikian pula, dua pulau yang berdekatan, dapat pula terdiri atas dua suku yang berbeda dan dua bahasa yang berbeda pula. Oleh karena itu, masalah komunikasi di antara berbagai suku dan bahasa daerah yang berbeda itu dapat diatasi dengan adanya satu bahasa nasional yakni bahasa Indonesia.

BAB III
SIMPULAN DAN SARAN

A.      Simpulan
Keberadaan bahasa Indonesia resmi (Baku) dalam penggunaan bahasa Indonesia oleh para penuturnya merupakan salah satu bentuk variasi bahasa dari variasi bahasa Indonesia lainya. Hal penting yang perlu dipahami adalah bahwa bahasa Indonesia resmi digunakan pada tempat atau suasana yang resmi atau hal lain yang menjadi alasan digunakan bahasa resmi tersebut. Ragam bahasa Indonesia bedasarkan penutur diperinci menurut tinjauan  (1) daerah, (2) pendidikan dan (3) sikap penutur. Ragam bahasa Indonesia berdasarkan jenis pemakaian bahasa diperinci menurut tinjauan (1) bidang/pokok persoalan, (2) sarananya, dan (3) gangguan percampuran. Kedudukan bahasa indonesia pada dasarnya dapat dibedakan atas dua yang bertolak dari sejarah pertumbuhannya (1) kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, (2) kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.
B.       Saran

DAFTAR PUSTAKA

http://pengembanganbahasa4.wordpress.com/tag/kedudukan-bahasa-indonesia/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar